Kisah Ahok, Aura Mistis Di Rumah Dinas Gubernur DKI

Ternyata cerita mistis tak hanya ada pada rumah-rumah kosong tak berpenuhi saja, kali ini saya akan berbagi kisah mengenai cerita misteri dibalik rumah dinas yang ditempati jokowi sebagai gubernur DKI jakarta.



Rumah dinas Gubernur DKI Jakarta yang berlokasi di Jl Taman Suropati No 7, Menteng, Jakarta Pusat ternyata bukan hanya sebuah rumah biasa yang pernah ditempati oleh para Gubernur DKI Jakarta. Rumah dinas bekas Fauzi Bowo yang sedang ditempati oleh Jokowi itu dikabarkan menyimpan banyak cerita misteri, salah satunya adalah penampakan sosok hantu kakek bungkuk di sejumlah lokasi rumah.

Dilansir dari Tribunnews.com, seorang penjaga rumah mengungkapkan jika sejumlah pejabat memang sengaja ‘memelihara’ makhluk gaib demi tujuan tertentu. Penjaga tersebut melihat sosok hantu kakek bungkuk di depan pintu masuk rumah dinas.

Menurut dugaannya, misteri hantu kakek bungkuk itu adalah sosok penjaga .

“Saya percaya, setiap pejabat biasanya ada ‘penjaganya’. Saya pernah lihat sekali tahun 2010, ada kakek-kakek tua misterius jalan di situ.

Saya duga itu ‘penjaganya’ Bapak ,” katanya kepada sumber yang sama, Sabtu, 13 Oktober 2012. Penjaga itu juga menuturkan tentang peristiwa kesurupan yang pernah terjadi pada salah seorang petugas jaga dari TNI.


“Pernah ada petugas yang jaga dari TNI kesurupan. Ada juga anggota TNI yang jaga, alat kelaminnya diinjak sama penunggu di sini. Saya bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi kejadian misterius itu memang ada,” katanya lagi. Sementara itu, Jokowi selaku Gubernur DKI Jakarta akan mulai menempati rumah dinasnya mulai Selasa, 16 Oktober 2012, sehari setelah pelantikan dirinya.

Di rumah itu Jokowi tinggal berdua bersama sang istri sedangkan ketiga anaknya tinggal di Kota Solo dan Singapura untuk melanjutkan usaha pribadi dan sekolah. Selain rumah tersebut, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan tiga rumah dinas lainnya bagi Jokowi. Rumah dinas lainnya terletak di Jl Besakih Jakarta Selatan, Jl Denpasar Jakarta Selatan dan Jl Prof Satrio Jakarta Selatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menolak untuk menetap di rumah dinas gubernur di Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat.

Padahal, kepala daerah-kepala daerah sebelumnya memilih untuk hijrah dari rumah pribadinya ke rumah dinas yang tepat berhadapan dengan Taman Suropati itu. Sutiyoso dulu menempati rumah dinas itu selama 10 tahun saat dia menjabat sebagai gubernur Jakarta, kemudian Fauzi Bowo selama 5 tahun serta Joko Widodo selama 2 tahun. Lantas mengapa Basuki lebih memilih tetap tinggal di rumah pribadinya di Pantai Mutiara, Jakarta Utara, yang lokasinya jauh dari kantornya di Balaikota?

"Saya itu enggak suka keramaian, kalau di sini (rumah dinas Taman Suropati) rame banget, dari pagi sampai pagi selalu rame. Kalau di rumah saya (di Pantai Mutiara) setelah magrib saja, sudah seperti tidak ada kehidupan, sepi banget. Apalagi kalau weekend, tetangga saya kebanyakan pasti di luar negeri, tidak ada yang di rumah," kata Basuki, saat berbincang santai dengan wartawan di rumah dinas gubernur di Taman Suropati nomor 7 itu beberapa waktu lalu.

Banyak nyamuk

Sepanjang wawancara, Ahok tak henti-hentinya menepok nyamuk yang berterbangan di rumah dinas yang telah berdiri sejak zaman Belanda itu. Menurut dia, desain bangunan rumah dinas gubernur tidak dibuat untuk menangkal nyamuk. Pria yang akrab disapa Ahok itu pun meminta Tunjung, staf pengamanan dalam (pamdal) yang bertugas khusus di rumah dinas gubernur DKI untuk membeli raket nyamuk. Basuki merasa heran bagaimana bisa Jokowi dan gubernur lainnya betah menempati rumah dinas gubernur selama bertahun-tahun. "Nyamuknya ganas-ganas lho di sini, enggak enak ada tamu terus nyamuknya terbang-terbang. Aneh, kok Pak Jokowi bisa betah tinggal di sini," kata Ahok.

Hawa mistik

Saat mengelilingi berbagai sudut dan ruangan rumah dinas gubernur, Ahok ditemani beberapa pengawal pribadi, pamdal, dan penjaga rumah yang sudah 28 tahun berjaga di sana, Katman. Basuki mengaku bulu kuduknya merinding ketika melihat satu persatu ruangan di sana, terutama di kamar sang gubernur. "Kalian (wartawan) mau enggak tinggal di sini? Boleh, tidur di sini saja, paling yang nemenin (menemani) ada noni Belanda-nya," kata Ahok bercanda kepada wartawan.

"Tadi ganti baju di kamar mandi sendirian saja seram banget," ujarnya lagi. Bangunan rumah dinas gubernur ini sebelumnya merupakan merupakan kediaman GJ Bisschop, wali kota pertama dari Gemeenterad Batavia (1916-1920). Bangunan dirancang Ir Kubath di atas areal tanah bekas eigendom. Rumah itu berlantai dua, lengkap dengan paviliun dan gudang dengan luas keseluruhan 1.100 meter persegi.

Bangunan tersebut sudah direnovasi beberapa kali namun tetap mempertahankan gaya aslinya, terutama di bagian genteng. Beralih ke zaman Jepang, gedung ini tetap difungsikan sebagai tempat tinggal wali kota. Tepatnya pada tahun 1949, rumah ini resmi menjadi milik Pemprov DKI Jakarta dan dijadikan sebagai cagar budaya. "Kalau dibandingkan sama Istana Merdeka, lebih seram rumah dinas (gubernur) suasananya," kata Ahok.

Rumah pribadi dekat dengan sekolah anak

Alasan lain mengapa Ahok lebih memilih menetap di rumah pribadinya ketimbang di rumah dinas gubernur adalah lokasi sekolah anak-anak mereka tak jauh dari kediaman mereka. Alasan itulah yang menyebabkan Ahok dan keluarganya tak ingin pindah ke rumah dinas gubernur. "Anak-anak sekolahnya lebih dekat kalau di Pluit. Kalau jadi anak Menteng, susah, sekolahnya jauh," kata dia. Oleh karena itu, ia hanya akan mempergunakan rumah dinas gubernur hanya untuk jamuan resmi, menerima tamu resmi, serta menyelenggarakan acara resmi Pemprov DKI.
iklan pintar / iklan bawah artikel

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel