Misteri,Kematian Gayatri Gadis Jenius Direkrut Menjadi Agen Intelijen?

Gayatri Wailissa, putri Ambon yang menguasai 14 bahasa asing meninggal Kamis (23/10) malam karena pendarahan otak. Gadis jenius itu dalam beberapa bulan terakhir mengikuti pelatihan sebagai anggota Badan Intelijen Negara (BIN).

Selain menguasai 14 bahasa, semasa hidupnya Gayatri dikenal sebagai anak yang pandai bersosialisasi. Kesibukannya sehari-hari yakni sebagai penyiar radio, penerjemah dan peneliti bahasa, serta menjadi instruktur teater di kampusnya.



Prestasi fantastis yang pernah diraih Gayatri antara lain adalah menjadi Duta Anak Tingkat ASEAN, mendapat medali perunggu Science Astronomy 2012, Penerima Anugerah Tunas Muda Pemimpin Indonesia 2013 dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta sebagai delegasi anak di beberapa konferensi internasional tingkat Asia.

Penjelasan mengenai hal ini diungkapkan ibunda Gayatri, Nurul Ida Wati. Sang ibu awalnya mengaku tidak tahu aktivitas Gayatri selama di Jakarta. Namun Ida mengakui jika anaknya memang punya keinginan untuk menjadi anggota BIN.

"Bukan mendengar tapi karena memang itu cita-cita dia, bahkan saking menggebunya mereka pernah menawarkan dia ke kesana secara resmi," kata Ida seperti dikutip dari wawancara dengan MetroTV, Minggu (26/10).


Ida bertemu dengan Gayatri saat pulang ke Ambon pada 19 September lalu. Saat itulah Gayatri menceritakan jika dia dilatih beladiri hingga menembak. "Latihan bela diri, kung fu, menembak juga," pungkasnya.

Sebelumnya, Ayah Gayatri, Dedi Darwis Wailissa mengungkapkan anaknya sudah direkrut oleh BIN sejak 3 bulan lalu di Jakarta.

"Dia telah dilatih sebagai BIN, Badan Intelijen Negara. Tetapi kehendak Allah lain," kata Dedi sebelum pemakaman Gayatri, Sabtu (25/10).

Hal tersebut dapat dipastikan pada foto terakhir almarhumah yang dibawa ke pemakaman, mengenakan seragam hitam ala militer. Pemakaman Gayatri juga didatangi sejumlah petinggi dari Kodam XVI Pattimura TNI AD. Gayatri dimakamkan di Taman Makam Bahagia Ambon. Makam ini biasanya khusus untuk para purnawirawan TNI dan Polri.
(merdeka).

“Kematian Gayatri disebabkan karena pecah pembuluh darah di otak yang menyebabkan dia mengalami koma selama beberapa hari sebelum akhirnya meninggal,” ungkap Dedi.



Kenapa Setelah Olahraga, Gayatri Wailisa Bisa Meninggal?

Meninggalnya remaja berbakat asal Ambon, yang jago 14 bahasa asing, Gayatri Wailisa tentu mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, dia meninggal usai olahraga. Ada banyak kasus seperti ini terjadi.

Jika Anda ingat, pelawak Almarhum Basuki dan aktor Almarhum Adjie Massaid juga meninggal usai olahraga futsal. Lantas apa yang sebenarnya terjadi?

Quote:
Konsultan Spesialis Jantung dan Pembuluh darah dari RS Sahid Sudirman, dr. H. Aulia Sani, Sp.JP (K) FJCC, FIHA, FAsCC, FICA mengatakan, usai olahraga tensi darah seseorang bisa naik. Pada kondisi tertentu, naiknya tensi darah ini juga diikuti dengan kondisi lain atau munculnya penyakit lainnya seperti aneurisma atau pelebaran pembuluh darah akibat lemahnya pembuluh darah atau penyakit jantung.
"Olahraga itu dapat meningkatkan tensi darah sehingga dapat membentuk sakular atau fusiform (sel otot melebar di tengah dan meruncing pada kedua ujungnya)," katanya.

Selain olahraga, kata Sani, aneurisma juga bisa dipicu bila seseorang marah-marah atau kedinginan hebat. Kendati demikian, Sani menyarankan bagi siapapun yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, riwayat jantung atau genetik segera periksakan diri ke dokter sebelum olahraga dan rutin melakukan scanning rutin.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Maluku, Brigadir Jenderal TNI Gustav Agus Irianto membantah jika Gayatri Wailissa (17) pernah direkrut dan mengikuti pelatihan sebagai anggota BIN.

Pernyatan ini disampaikan Gustav menanggapi pertanyaan sejumlah wartawan di sela-sela kunjungannya ke rumah duka mendiang Gayatri di kawasan Tantui Ambon, Sabtu (24/10/2014) petang.


“Bukan, dia belum anggota BIN. Dia hanya bercita-cita sebagai anggota BIN, jadi belum sebagai anggota BIN,”
kata Gustav sebagaimana dilansir Kompas.

Gustav menjelaskan bahwa seseorang yang ingin bergabung menjadi anggota BIN harus melalui rekrutmen di Sekolah Tinggi Intelijen (STI). Kata dia, setiap anggota BIN pasti tercatat semua. Syarat masuk STI pun minimal harus berusia 18 tahun.

“Jadi ada kekeliruan. Karena angota BIN itu rekrutmennya di STI harus lulus SMA usianya 18 tahun,” ujarnya.


Dia mengatakan, siapapun boleh bergabung dengan BIN, tetapi harus melalui prosedur dan tes terlebih dahulu. Setelah dinyatakan lulus baru bisa mengikuti pendidikan di STI.

“Kalau ada yang bercita-cita ingin masuk ke BIN nanti kita wadahi tetapi hasrus sesuai prosedur,”
ujarnya.

Soal kedekatan Gayatri dan elite TNI, dia enggan berkomentar banyak. “Tidak, tidak, saya tidak tahu nanti tanya saja ke Jakarta.

Sebelumnya, ayah almarhumah, Deddy Darwis Wailissa, saat menyampaikan sambutan keluarga di aula Kodim 1504, tempat persemayaman Gayatri, mengatakan bahwa anaknya telah menjadi anggota BIN. “Jadi yang jelas bahwa foto Gayatri ini sudah diterima sebagai anggota BIN,” ujar Deddy sambil menunjuk foto Gayatri yang mengenakan seragam BIN. (liputan6.com)

Jantung Gayatri Wailissa Masih Berdetak Usai Dinyatakan Meninggal


Gayatri Wailissa, mantan duta ASEAN (perhimpunan negara-negara Asia Tenggara) asal Ambon yang menguasai 14 bahasa asing meninggal dunia pada Kamis 23 Oktober 2014 malam. Meski telah dinyatakan meninggal pada pukul 19.00 WIB oleh tim dokter RS Adi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat, jantung perempuan berusia 19 tahun itu dikabarkan sempat berdetak pada beberapa menit kemudian.

Quote:

"Saya masih belum yakin dia benar-benar meninggal, jantungnya masih terus berdetak, dokter juga belum mau melepas alat pemacu jantung, kami masih terus berharap," kata Angga Mitra Kahar (24), sepupu Gayatri di Ambon, Jumat (24/10/2014).
Angga yang sejak Kamis malam menemani Gayatri di rumah sakit itu, mengatakan pihak keluarga hingga saat ini masih bingung mengapa Gayatri sampai koma.

Informasi tim dokter yang menanganinya, Gayatri dibawa ke rumah sakit tersebut dalam kondisi pingsan sehabis melakukan jogging Taman Suropati, Jakarta pada Kamis sore pukul 17.00 WIB.

Setelah dipindai, dokter menemukan telah terjadi pecah pembuluh darah di otak akibat kelelahan berolahraga. Meski telah dioperasi, gadis kelahiran 31 Agustus 1995 masih dalam kondisi koma dan secara resmi dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter pada pukul 19.00 WIB.

"Kami sampai sekarang masih bingung dengan kondisinya, dia tidak punya riwayat penyakit berbahaya. Om Dedi (ayah Gayatri Wailissa) bilang dokter juga bingung dengan kondisinya Tri (Gayatri Wailissa). Saat ini dia masih terbaring koma, kepalanya juga sudah digunduli untuk keperluan operasi," jelas Angga.

Gayatri dijadwalkan dimakamkan di TPU Taman Bahagia, kawasan Kapahaha, kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Sabtu 25 Oktober. Jenazahnya akan diberangkatkan dengan pesawat Garuda Indonesia dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta pada Sabtu dini hari.

Hingga kini belum diketahui pasti penyebab kematian Gayatri Wailissa, gadis ajaib yang fasih 14 bahasa asing. Ayahanda almarhum Gayatri Wailissa, Deddy Darwis Wailissa mengatakan, pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergian putrinya, meski diketahui sempat ada pendarahan di bagian otak sebelum wafat. Keluarga juga menolak otopsi terhadap jenazah Gayatri.

"Saya tak lagi ambil pusing akan hal itu. Tidak ada otopsi atau visum," kata Deddy.

Gayatri dikenal sebagai poliglot, seseorang yang menguasai banyak bahasa. Dia bisa berbicara 11 bahasa asing secara fasih, dan baru saja menambah kecakapan berbahasanya dengan tiga bahasa asing lainnya, yakni Tagalog, Thai, dan Vietnam.

Demi mengejar cita-citanya menjadi seorang diplomat, Gayatri anak sulung dari seorang pembuat kaligrafi, Dedi Darwis Wailissa dan Nurul Idawati, itu giat mempelajari berbagai bahasa asing secara otodidak sejak berusia 14 tahun. (liputan6)
iklan pintar / iklan bawah artikel

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel